Tuesday, November 15, 2016

Comment Pup, Isu SARA, dan Rasa Kemanusiaan (Part II)

Hi, All...

Sebelum kalian baca part ini, ada baiknya kalian baca dulu part sebelumnya Comment Pup, Isu SARA, dan Rasa Kemanusiaan (Part I).

Ada baiknya juga kalau dipahami isi postingan saya ini bersifat pandangan pribadi saya. Jadi jika tidak setuju/suka, silahkan tutup postingan saya tanpa harus bikin huru-hara.

Back to topic, isu SARA. Topik SARA ini memang lagi happening banget. Padahal ini masalah sensitif dan menurut saya personal things. Ketika lahir, kita tidak bisa memilih mau dari Suku/Ras dari mana. Sang Pencipta sudah menentukan semuanya dari awal. Begitu juga dengan Agama/Keyakinan seseorang, buat saya itu adalah hubungan kita dengan Sang Khalik.

Kalau kalian lihat, saat ini Negara kita sedang 'diuji' mengenai isu ini. Isu yang menurut saya berlebihan dalam konteksnya. Semua disangkut pautkan. Membaca postingan saya sebelumnya, ada seseorang yang menyebutkan saya kafir. Padahal pengertian kafir sendiri itu apa sih? Menurut KBBI sih orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasulNya. Anehnya, saya percaya Allah. Lalu, pantaskah saya disebut kafir oleh orang yang bertemu sekali pun tidak dengan saya? Saya memiliki agama. Saya mempunyai kepercayaan. Agama dan kepercayaan saya berbeda dengan mayoritas agama di Negara kita. Lantas? Itukah jadi suatu pembenaran seseorang melakukan sesuatu yang tidak baik kepada yang lain?

Saya mengakui saya adalah makhluk berdosa, saya tidak pantas menasehati orang lain karena diri saya sendiri juga tidak jauh lebih baik. Seseorang berkata saya adalah batu hitam tak bercahaya, saya terima. Tokh, kenyataannya memang saya ini penuh dosa. Tapi, saya bersyukur kalau saya menyadari saya ini berdosa ketimbang orang yang mengata-ngatai saya. Mungkin dia sudah yakin kalau dirinya ini batu berlian yang cahayanya paling kuat - mungkin dan sekali lagi mungkin. Kalau memang merasa sudah paling benar dan paling suci, kenapa gak langsung masuk surga aja? Katanya surga lebih enak ketimbang duniawi? Tapi disuruh duluan tidak mau? Why??? Karena kita ini masih banyak dosa, masih harus mengkoresi diri sendiri: layak atau tidak kita berhadapan dengan Sang Pencipta.




Banyak orang yang sekarang ini merasa suci, bisa mengatasnamakan kejahatan di atas agama. Kalau dipikir lebih dalam, apakah benar memang ada ajaran seperti itu atau pemahaman orang tersebut yang salah terhadap suatu ajaran agama? Jadi, Tuhan mana yang kalian bela? Tuhan yang menciptakan alam semesta ini atau Tuhan yang kalian ciptakan menurut image yang sesuai dengan pemahaman kalian?

Kita hidup di negara yang mengakui adanya keberanekaragaman agama, budaya, suku, ras, bahasa, dsb. Seharusnya kita bangga akan keberagamannya itu, seperti suatu simponi musik yang indah dan selaras. Ada nilai-nilai yang harus diselaraskan dengan azas Bhineka Tunggal Ika, sehingga antara satu dengan yang lainnya harus saling menghormati, harus saling menghargai. Bukan mayoritas menginjak yang minoritas atau yang minoritas 'ngelunjakin' kaum mayoritas. Ada hal-hal yang bersinggungan antara satu dengan yang lainya harusnya dijadikan penguat, bukan sebagai alasan untuk pemecahan. Kalau kalian tidak bisa mentolerir hal tersebut, berarti khalifah kalian bukan di negara ini. Carilah negara yang sesuai dengan paham yang kalian anut. 



Oh iya, bagaimana dengan penyebutan kafir tadi? Saya pribadi tidak suka dikatakan kafir. Tapi, kalau orang mau menyebut saya kafir ya mau apa? Tokh, kepercayaan mereka harus menyebutkan kita seperti itu. Cuma mungkin, seharusnya ketika ada hal-hal bersinggungan seperti yang saya sebutkan sebelumnya harusnya bisa berlaku di sini. Saya memiliki agama, dan kalian juga. Baiknya kita membiasakan diri untuk menyebutkan agamanya, selama tidak menimbulkan dosa. Coba yang lain bilang saya umat kristiani? Ada dosa ga menyebut saya kristiani? Kalau tidak dosa, katakanlah itu. Karena selain lebih enak di dengar dan tidak bikin dosa, kalimatnya lebih santun, bikin orang tersenyum - yang katanya membuat orang tersenyum/bahagia akan mendapat pahala. See?



Sebagai tambahan: keluarga besar suami saya benar-benar imigran dari Arab tulen, orang Yaman, klan Alaydrus, klan Alatas dan masih banyak klan yang lain yang saya tidak tahu karena terlalu besar. Apakah mereka menyebut saya kafir? Nope. Sampai sekarang kami saling menghormati, mengasihi satu dengan yang lain. Jika Lebaran, kami datang mengucapkan maaf dan kalau Natal mereka bergantian mengucapkan selamat Natal.

Sebagai penutup, saya hanya membagikan link video ini, mungkin bisa jadi bahan perenungan, sebenarnya kita menyembah Tuhan atau manusia berbalut (yang mengaku) utusan tuhan?


Regards and Love,
F.
Share:

0 comments:

Post a Comment